Centre for Socius Design
eksperimen menuju arsitektur yang memitrakan
Urban Typology & Crime
Categories: Research

Studi komparasi persepsi keamanan antara permukiman berpagar, kampung kota dan permukiman campuran

Comparative study on perception of safety: gated communities, urban kampung and mixed neighborhood

Principal Investigator: Dr. Ing. Ilya Maharika, IAI

Penelitian ini berusaha memahami relasi antara keamanan dengan pola spasial permukiman di perkotaan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya perkembangan permukiman berpagar (gated settlement): sebuah kompleks perumahan atau real estate yang dipagari di sekeliling kompleks tersebut (bahasa pasar sering disebut cluster). Dari sisi pengguna tipe ini dianggap memberi solusi keamanan karena menciptakan mekanisme defensible space. Namun dari sisi perencanaan kota, tipe permukiman ini berkembang pesat tanpa kontrol yang dalam banyak laporan menjadi sebab munculnya fenomena disintegrasi sosial dan sprawl (pertumbuhan tak terencana). Makna yang ambigu dan divergen ini menjadikan tidak adanya platform teoritis yang mampu menjadi panduan dalam penentuan kebijakan perkotaan.

Studi ini akan membandingkan dua variabel utama yaitu persepsi keamanan warga dan perilaku pengamanan terhadap kriminalitas yang terjadi pada tiga bentuk permukiman: permukiman berpagar, kampung dan permukiman campuran. Pembandingan ini adalah untuk menjawab pertanyaan yaitu (1) adakah perbedaan signifikan persepsi keamanan pada tiga tipe permukiman dan (2) adakah perbedaan signifikan perilaku pengamanan terhadap kriminalitas juga pada tiga tipe permukiman tersebut. Diharapkan, dengan terjawabnya kedua pertanyaan ini dapat pula diungkap pertanyaan utama: (3) bagaimanakah model hubungan antara persepsi keamanan, perilaku pengamanan terhadap kriminalitas dengan metode pengamanan lingkungan pada tiga tipe permukiman yang berbeda tersebut? Dari ketiganya diharapkan dapat terpetakan relasi antara persepsi keamanan dan kasus kriminalitas di satu sisi dan bentuk atau tipe permukiman di sisi yang lain.

Metoda general yang digunakan adalah case study dengan menggunakan teknik kuisioner dan wawancara mendalam untuk menginterogasi persepsi keamanan dan perilaku pengamanan. Populasi objek penelitian adalah permukiman di Sleman, Yogyakarta. Tiga tipe permukiman diambil sampelnya masing-masing satu kasus dengan mempertimbangkan pemaksimalan variasi (maximum variation cases) dan sekaligus representasi dari tipe permukiman yang biasa dijumpai di Indonesia. Survei lapangan dilakukan untuk melihat secara mendalam karakter spasial dari masing-masing tipe sampel. Analisis komparasi persepsi keamanan dan data serta profil kriminalitas di tiga lokasi permukiman tersebut dilakukan dengan gabungan teknik deskriptif kualitatif maupun kuantitatif. Analisis berbasis statistik non-parametrik Kruskal-Wallis Test dipakai untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan antar ketiga grup tipe tersebut.

Berdasarkan analisis statistik tersebut, secara perseptual perasaan aman, masyarakat cenderung merasa tidak ada beda yang nyata antara tinggal di permukiman berpagar ataupun di permukiman kampung yang terbuka namun mempunyai kecenderungan yang berbeda dengan permukiman yang berbasis pedusunan yang masih memperlihatkan konstelasi teritorial yang enklav. Pagar keliling lingkungan permukiman ternyata tidak  signifikan memberi rasa aman tetapi justru pola-pola spasial yang menunjukkan kecenderungan terjadinya pengawasan oleh masyarakat sendiri (fenomena “eyes on the street”) dan rasa teritorial yang bukan melalui elemen pagar fisik mungkin yang lebih berperan dalam menciptakan rasa aman itu. Pagar juga mungkin tidak menciptakan zero crime di wilayah di dalamnya tetapi justru mungkin menjadi “undangan” terhadap para kriminal untuk masuk ke wilayah itu.

Namun demikian memang terdapat beberapa perilaku pengamanan yang menunjukkan bahwa pemukim di permukiman berpagar lebih berhati-hati terhadap siapa yang memasuki wilayah mereka yang sangat mungkin menuju pada kurangnya interaksi antara merekadengan penduduk di wilayah di luar gated communities.

Masyarakat baik di permukiman berpagar maupun di kampung terbuka ternyata tidak melihat intervensi arsitektural sebagai metode pengamanan yang mereka inginkan. Mereka lebih menginginkan adanya pengamanan oleh satuan pengamanan profesional selama 24 jam dan cara-cara yang melibatkan personatau komunitas. Hal ini mengindikasikan bahwa berhubungan langsung dengan person mungkin lebih dapat dipercaya sebagai faktor pemberi rasa aman ketimbang sekedar menyerahkan sistem pengamanan melalui elemen arsitektural, bahkan cara-cara yang canggih sekalipun.

Namun adanya harapan penggunaan pagar bagi masyarakat pedusunan justru sangat mungkin menjadi sebuah solusi yang  salah arah – “misleading” – yang perlu diluruskan dan perlu adanya pembejalaran terhadap fenomena ini. Perasaan aman mungkin cenderung diciptakan oleh faktor yang sifatnya spasial (morfologi ruang tertentu) yang sifatnya sesuai dengan semangat crime prevention through environmental design (CPTED) terutama pada penandaan dan penciptaan / perkuatan teritori tetapi bukan pemagaran.

Pemagaran permukiman seperti halnya yang dilakukan melalui gated communities, mungkin harus dilihat lebih pada problematikanya terhadap persoalan perkotaan secara umum dan bukan sebagai bentuk pembenaran untuk menciptakan rasa aman masyarakat. Bahwa pagar menciptakan perasaan aman ternyata tidak terbukti. Ternyata pengelolaan pengamanan baik profesional ataupun oleh masyarakat sendiri justru dipercaya akan lebih memberikan rasa aman. Dalam konteks ini model-model pengembangan tata ruang permukiman yang memudahkan identifikasi otoritas tata kelola pengamanan swadaya oleh warga sendiri (dan atau profesional) perlu dieksplorasi lebih lanjut di samping teknik-teknik pencegahan kriminalitas melalui tatanan ruang yang lebih berbasis pada situasi keruangan di Indonesia.

Diharapkan penelitian ini dapat berkontribusi sebagai pembaruan teori (theoretical update) dalam perdebatan teoritis kontemporer tentang signifikansi permukiman – komunitas berpagar (gated settlement – gated communities) dalam wacana perencanaan perkotaan. Diharapkan pula penelitian ini juga menyumbang pemahaman baru bagi wacana global komunitas berpagar tersebut yang lebih berbasis karakter empirik perkotaan di Indonesia. Manfaat langsung yang dapat ditarik adalah munculnya basis teoritis sebagai landasan kebijakan perencanaan kota.

Penelitian ini dibiayai oleh DIPA Kopertis Wilayah V Tahun Anggaran 2009 (Penelitian Fundamental)

Leave a Reply