Centre for Socius Design
eksperimen menuju arsitektur yang memitrakan
Ruang Bermain Tumpuk: Eksperimen dengan Kampung Badran
Categories: News from Us

Redundant Playground: Ruang Bermain Sebagai Wadah Keragaman Aktivitas Sosial Masyarakat Badran (Playground as a Space of Accommodating Social Activity Diversity in Badran Kampung). Final Project by Nova Salendra, supervised by Dr. Ing. Ilya F. Maharika. Year: 2010.


Dalam tugas akhir ini penulis merancang sebuah ruang bermain anak yang dapat dijadikan sebagai wadah belajar dan wadah keragaman aktivitas sosial masyrakatnya sebagai esensi dari konsep redundancy.

Redudansi dalam bahasa inggrisnya Redundant atau Redundancy, jika diartikan menurut google translate memiliki arti: yang berlebihan, mubazir, pleonastic. Menurut Kamus Online redudansi diartikan berlebihan, sedangkan makna lainya adalah, tambahan, cadangan, terlampau, tak berguna, figuran, surplus. Istilah redundansi lebih dikenal dalam dunia informasi, seperti, redundancy dalam teori informasi adalah banyaknya “pemborosan ruang” (pengulangan yang tidak perlu) dalam pengiriman sebuah data tertentu.

Lokasi perkampungan Badran terletak pada kawasan urban yang dapat dikatakan sedang menuju sebuah perkembangan, masyarakat tidak saja dituntut untuk bertahan hidup berdasarkan dari segi ekonomi, melainkan mereka juga dituntut untuk dapat menyaring segala macam pengaruh yang terjadi pada masyarakat urban. Terkadang belum termasuk atas konflik yang ada di perkampungan baik dari lingkungan dan masyarakatnya, seperti, perekonomian, pendidikan masyarakat mayoritas tergolong rendah, lingkungan fisik yang padat, unsur kriminalitas. Lantas dari konflik-konflik ini siapa yang paling menerima dampaknya, sedangkan di perkampungan Badran ada sosok yang nantinya menjadi sebuah penerus, baik untuk keluarga, masyarakat, bahkan Negara sekalipun, mereka adalah anak-anak. Apa yang terjadi jika di masa kekanak-kanakan sekarang untuk pertumbuhannya anak-anak banyak dituntut, dan dipengaruhi hal-hal yang seharusnya tidak dicontoh, dan dilakukannya.

Sebuah ruang bermain anak sebagai wadah keragaman aktivitas sosial masyrakatnya dapat menjadi salah satu alternatif arah pengembangan, selain untuk mewadahi aktivitas anak-anak bermain dan belajar, wadah ini juga dapat dijadikan oleh masyarakat untuk meyelesaikan konflik-konflik kampung dan mengekplorasikan aktivitasnya.

Ruang bermain anak sebagai wadah keragaman aktivitas sosial masyrakatnya adalah sebuah konsep yang didasari dari tipikal tempat, tipikal aktivitas bermain dan sosialisasi masyarakat yang ada diperkampungan. Yakni dari sebuah pola jalan kecil (gang) dan, di pertemuan jalan. Kemudian ditranformasikan pada perancangan untuk menghasilkan sebuah ruang yang secara keseluruhan berfungsi lebih (redundant).

Untuk mengetahui tipikal tempat, tipikal aktivitas bermain anak dan aktivitas sosial masyarakat, diperkampungan Badran. dilakukan dengan cara penulis survei ke lokasi, selanjutnya mempetakan dan mendokumentasikan untuk ditransformasikan ke dalam rancangan dan menyesuaikannya terhadap lokasi studi kasus.

Dalam tugas akhir ini penulis merancang ruang bermain (playground), tetapi juga berfungsi sebagai ruang belajar dan wadah keragaman aktivitas sosial masyrakatnya. Pada pertemuan gang yang ada diperkampungan sebagai starting point perancangan. Agar ruang dapat berfungsi lebih (redundant) mendukung dalam mewadahi aktivitas bermain dan bersosialisasi, ruang yang dibentuk melalui bidang datar tanpa mengunakan dinding pemisah (penyekat ruang) terkecuali pada batasan perancangan, dan tanpa split level (tangga). dikarenakan keterbatasan lahan, rancangan ruang bermain diarahkan secara vertikal. untuk menghilangkan keterpisahan antara ruang-ruang ini, penulis menggunakan struktur yang terdiri dari bidang miring (ram). Meskipun tanpa penggunaan, elemen dinding pembatas, split level, struktur bangunan sendiri mendukung untuk terjadinya pemisahan. Tetapi menjadi tidak bermasalah, apabila dari tiap ruang yang terpisah akibat struktur itu telah memiliki fungsi sendiri dalam mendukung lebih dari satu aktivitas user.


1 Comment to “Ruang Bermain Tumpuk: Eksperimen dengan Kampung Badran”

  1. bagus juga tuh karena saya juga baru belajar di arsitek sebagai angkatan 2010 saya terkesan dngan ide mba yang membuat playground tersebut dengan setting beberapa lantai mm ternyata memang harus memiliki ide yang terus berkembang supaya bisa berkreasi terus.. doain tuk saya yang baru masuk semoga bisa bekerja keras dan menjadi insan yang baik

Leave a Reply