Centre for Socius Design
eksperimen menuju arsitektur yang memitrakan
About

Centre for Socius Design atau CSD adalah sebuah upaya untuk menjadikan arsitektur lebih memperhatikan relasi-relasi sosial.

Nasib orang miskin dan terpinggirkan kembali menjadi sentral perdebatan arsitektur. Kegagalan Pruitt Igo bukan sekedar mematikan semangat universalisasi dengan merayakan kemunculan postmodernism yang cenderung ikonografik. Peledakkan itu juga meninggalkan gema berupa hilangnya proyek-proyek arsitektur untuk kaum miskin. Kurang lebih tiga dekade, arsitektur disibukkan dengan ekplorasi figuratif dalam bingkai double coding yang ternyata tetap berujung pada wacana identitas baik kolektif maupun identitas para arsitek itu sendiri untuk meninggalkan signature pada karyanya. Selama itu pula dunia arsitektur kehilangan eksplorasi yang sangat intensif terhadap kediaman (dwelling) sebagai pemenuhan hajat hidup manusia seperti existenzminimum Erst May di Jerman atau minimum dwelling di Inggris, unit habitasi a la Corbusier di Perancis atau support and detachable units nya Habraken.

Namun demikian, tampaknya bandul tantangan global tidak bisa ditolak oleh arsitektur. Wacana global tentang kemiskinan global (global poverty), tantangan Millennium Development Goals (MGD) dan peledakan populasi manusia, serta migrasi kaum miskin ke metropolitan, memaksa arsitektur kembali memikirkan kaum miskin, kaum terpinggirkan. Perumahan misalnya yang menjadi problem laten kini mulai menjadi sentral debat lagi setelah cukup lama disingkiri dari debat teori arsitektur dan perkotaan. Demikian pula dengan informalitas, sebuah ciri ‘baru’ masyarakat kota global.

Dalam konteks permasalahan global inilah Centre for Socius Design (CSD) – sebuah pusat studi yang berusaha menggali peran arsitektur sebagai proyek pemitraan secara sosial – berusaha menempatkan diri di sentral debat dengan menawarkan eksplorasi cara pandang baru, metode baru, tipologi baru, yang berbasis pada pendekatan sosio – behavioral serta kompleksitasnya hingga eksperimentasi peran dan bentuk baru bagi arsitektur.

Cara pandang ini menempatkan arsitektur bukan sekedar sebagai sebuah profesi penyedia ruang akan tetapi juga sebuah ilmu pengetahuan yang dapat menyodorkan alternatif bagi pembentukan ruang binaan yang lebih baik. Tantangan dunia nyata di sini direspon bukan “dapat dibangun” belaka akan tetapi justru pada kemampuan arsitek menangkap esensi peran sebagai pengarah apa yang sebaiknya dibangun dan apa yang tidak perlu.

Melalui CSD anda diundang untuk berpikir kritis – out of the box – dalam menghadapi persoalan nyata tersebut. CSD beranggapan bahwa walaupun masalah yang dihadapi sepertinya “klise” namun justru diperlukan solusi-solusi disain yang tidak klise, mungkin radikal, karena nyata-nyata persoalan klise itu tak kunjung selesai dengan pendekatan konvensional kontemporer.

Keberanian melontarkan ide konstruktif sangat dihargai!